/ Jawa Timur / Tokoh & Industri Properti /

Iin Insiati dan Jalan Panjang Membangun Rumah Rakyat

Profil Ketua APERNAS Jawa Timur Iin Insiati mengungkap perjalanan hidup, tantangan rumah subsidi, dan visi humanis membangun industri properti berkelanjutan.

Oleh Handoko waktu baca 7 menit
Iin Insiati dan Jalan Panjang Membangun Rumah Rakyat
Ketua ASPERNAS Jawa Timur Iin Insiati mengungkap perjalanan hidup, tantangan rumah subsidi, dan visi humanis membangun industri properti berkelanjutan. Sumber: Handoko

Ketika Filosofi Hidup, Kerja Sosial, dan Industri Properti Bertemu

Profil Ketua APERNAS Jawa Timur Iin Insiati mengungkap perjalanan hidup, tantangan rumah subsidi, dan visi humanis membangun industri properti berkelanjutan.

 

Malang, Propertimedia - Saya tiba di rumahnya sekitar pukul 20.30 WIB. Malam itu, Perumahan Puncak Tidar, Kota Malang, terasa lebih hening dari biasanya. Udara sejuk khas dataran tinggi Malang mengalir pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Lingkungan yang asri itu seolah menjadi perpanjangan karakter pemilik rumahnya: tenang di luar, namun menyimpan energi besar di dalam.

 

Sehari sebelumnya, saya sudah berkontak dengan beliau. Undangan itu disampaikan dengan gaya khasnya yang lugas namun hangat.
“Mas datang ya ke rumah saya di malam pergantian tahun. Kita ngopi-ngopi, sekalian makan khas tahun baru,” katanya.
Ajakan sederhana, tapi sarat makna. Bukan sekadar wawancara formal, melainkan perjumpaan personal yang jarang didapat dalam liputan tokoh industri.

 

Benar saja, begitu sampai di rumahnya, meja sudah dipenuhi aneka makanan dan minuman. Suasana terasa cair.
“Ayo mas, monggo santai saja. Mana yang jenengan suka,” sapanya ramah.
Tidak ada jarak. Tidak ada kesan eksklusif yang berlebihan, padahal di hadapan saya duduk seorang Ketua Wilayah APERNAS Jawa Timur, sosok penting di balik pembangunan ribuan unit rumah rakyat.

 

Perempuan Petarung dengan Filosofi Hidup Khas Jawa

Dari gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, penuh semangat, dan sesekali meledak-ledak saat membahas isu yang ia yakini, saya langsung menangkap satu hal: beliau adalah tipe perempuan petarung. Sosok yang ulet, berani, dan tidak mudah menyerah.

 

Ia lalu menyebutkan satu filosofi hidup yang selalu menjadi pegangan.
“Nek wani ojo wedi-wedi, nek wedi ojo wani-wani.”

 

Kalimat sederhana itu, menurut saya, merangkum keseluruhan perjalanan hidupnya. Berani mengambil risiko, tapi juga siap menanggung konsekuensinya. Prinsip itulah yang membuatnya mampu bertahan dan terus bergerak di industri properti yang keras, fluktuatif, dan penuh tekanan.

 

Lahir di Blitar, Ditempa oleh Banyak Kota

Iin Insiati lahir di Blitar. Namun, ia menyebut dirinya hanya “numpang lahir” di kota itu. Hidupnya justru lebih banyak dihabiskan di kota-kota lain. Ia mengenyam pendidikan di salah satu kota di Kalimantan, lalu melanjutkan perjalanan hidup di Semarang, sebelum akhirnya menetap dan membangun karier di Malang.

 

Perpindahan lintas daerah itu membentuk karakter adaptif dan mental baja. Ia terbiasa menghadapi perubahan, membaca situasi, dan menyesuaikan diri. Modal ini kelak sangat penting ketika ia masuk ke dunia properti, sebuah industri yang sangat dipengaruhi dinamika ekonomi, kebijakan, dan perilaku pasar.

 

Dari Guru hingga Developer Properti

Karier Iin tidak pernah linier. Ia pernah menjadi guru, detailer obat, menjalankan usaha konveksi, hingga terjun sebagai marketing properti. Dunia properti sendiri mulai ia tekuni secara serius sejak sekitar tahun 2010.

 

“Tidak ada yang instan, mas,” katanya sambil tersenyum.
Semua pengalaman itu, menurutnya, justru menjadi sekolah kehidupan. Ia belajar memahami karakter manusia, membaca kebutuhan pasar, hingga mengelola risiko usaha.

 

Industri properti memang sering dipersepsikan sebagai dunia yang glamor dan berkelas. Namun di baliknya, terdapat tantangan besar. Mulai dari persoalan permodalan, regulasi, hingga fluktuasi daya beli masyarakat. Iin mengaku, justru pengalaman hidup yang beragam membuatnya mampu bertahan di tengah tekanan tersebut.

 

Menjadi Ketua APERNAS Jawa Timur

Sejak 2023, Iin dipercaya menjabat sebagai Ketua Wilayah APERNAS Jawa Timur. Sebelumnya, ia memimpin APERNAS Malang Raya selama periode 2018–2023. Jabatan ini bukan sekadar posisi struktural, melainkan amanah yang menuntut kerja nyata.

 

“Ini lebih banyak kerja sosialnya,” ujarnya.
Sebagai asosiasi profesi, APERNAS memang menaungi para pengembang perumahan, khususnya di segmen rumah rakyat. Namun dalam praktiknya, organisasi ini juga menjadi jembatan antara pemerintah, perbankan, dan masyarakat.

 

Di Jawa Timur, APERNAS kini menaungi sekitar 60 anggota dan terus bertambah. Mayoritas adalah pengembang muda dan tim marketing yang masih membutuhkan pendampingan. Di sinilah peran Iin menjadi signifikan, bukan hanya sebagai pemimpin organisasi, tetapi juga mentor.

 

Misi Besar: Rumah Layak untuk Masyarakat Kurang Mampu

Ketika saya menanyakan harapan terbesarnya, jawabannya sangat lugas.
“Saya ingin bisa membantu lebih banyak masyarakat kurang mampu memiliki rumah.”

Pernyataan itu bukan retorika. Selama bertahun-tahun, Iin konsisten menggarap perumahan subsidi. Padahal, segmen ini dikenal memiliki margin tipis dan tantangan tinggi. Namun baginya, rumah subsidi adalah jalan pengabdian.

 

Secara nasional, data Kementerian PKP menunjukkan bahwa backlog perumahan masih mencapai jutaan unit. Artinya, jutaan keluarga Indonesia masih belum memiliki hunian layak. Dalam konteks inilah, peran pengembang rumah subsidi menjadi sangat krusial.

 

Tantangan Kompleks Rumah Subsidi

Namun membangun rumah subsidi bukan perkara mudah. Iin menyebut tantangannya sangat pelik. Mulai dari pengadaan tanah yang strategis namun terjangkau, harga material bangunan yang terus naik, hingga persoalan perizinan yang berbeda-beda di setiap daerah.

 

“Setiap daerah punya karakter dan aturan sendiri,” jelasnya.
Sebagai developer, ia dituntut untuk mampu mensinergikan berbagai regulasi yang sering kali tumpang tindih. Semua itu harus diramu agar tetap menghasilkan rumah yang layak, berkualitas, namun sesuai harga yang ditetapkan pemerintah.

 

Masalah BI Checking dan Pinjol

Tantangan terbesar justru sering datang dari sisi konsumen. Banyak calon pembeli rumah subsidi gagal lolos BI Checking. Penyebabnya beragam, mulai dari cicilan motor, pinjaman usaha kecil, hingga jeratan pinjaman online.

 

“Pinjol ini yang paling banyak,” katanya serius.
Fenomena ini sejalan dengan data Otoritas Jasa Keuangan yang menunjukkan tingginya penetrasi pinjaman online di masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah. Akibatnya, meski memiliki kebutuhan rumah yang tinggi, banyak masyarakat terhambat dari sisi pembiayaan.

 

Gagasan Out of the Box: Memberdayakan Konsumen

Di titik inilah saya melihat sisi visioner Iin. Ia tidak berhenti pada keluhan. Ia justru menyiapkan solusi yang tidak lazim.
Menurutnya, konsumen perlu dipetakan. Mereka yang sudah lolos BI Checking diproses seperti biasa. Namun bagi yang belum lolos, ia ingin membantu lebih dulu memperbaiki kondisi ekonomi mereka.

 

Caranya melalui pendampingan UMKM.
“Kita bantu dulu supaya ekonominya membaik. Target saya maksimal enam bulan mereka bisa mandiri,” ujarnya optimistis.

 

Pendekatan ini menunjukkan paradigma baru dalam industri properti. Developer tidak lagi hanya sebagai penjual rumah, tetapi juga mitra sosial yang membantu masyarakat naik kelas.

 

Membangun Pengetahuan dan Regenerasi Industri

Rencana ke depan bersama APERNAS juga tidak kalah ambisius. Iin ingin menulis buku secara berseri. Mulai dari rahasia bisnis properti, kunci sukses developer perumahan, hingga menyusun kurikulum sekolah properti.

 

Menurutnya, industri ini membutuhkan panduan praktis yang lahir dari pengalaman lapangan, bukan sekadar teori. Ia ingin agar generasi muda yang masuk ke dunia properti memiliki bekal yang kuat, baik secara teknis maupun mental.

 

Properti sebagai Pilar Ekonomi Nasional

Di tengah obrolan malam itu, saya teringat bahwa properti adalah salah satu sektor penggerak ekonomi nasional. Sektor ini memiliki keterkaitan dengan lebih dari 180 industri turunan dan berkontribusi signifikan terhadap PDB.

 

Kebijakan fiskal pemerintah yang tetap mendukung sektor perumahan rakyat menjadi penopang penting. Stabilitas APBN dan program perumahan memberi ruang bagi pengembang untuk terus bergerak, meski di tengah tantangan global.

 

Kunci Sukses: Berbagi dan Konsistensi

Menjelang tengah malam, saya mengajukan pertanyaan terakhir. Apa kunci suksesnya?
Jawabannya kembali sederhana namun dalam.
“Berbagi. Terutama berbagi ilmu dan waktu.”

 

Bagi Iin Insiati, kesuksesan bukan sekadar angka penjualan atau luas proyek. Ia adalah proses panjang membangun manusia, membimbing junior, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

 

Dari ruang tamu rumahnya di Puncak Tidar malam itu, saya melihat wajah lain industri properti. Wajah yang jarang disorot, namun justru menjadi fondasi keberlanjutan. Sebuah industri yang, di tangan orang-orang seperti Iin, tidak hanya membangun rumah, tetapi juga harapan.

 

Sumber:
Wawancara langsung dengan Iin Insiati; Dokumen internal APERNAS Jawa Timur; Kementerian PUPR; Badan Pusat Statistik; Otoritas Jasa Keuangan.

propertimedia.com

Artikel Terkait